Pada sebuah laman yang memperkenalkan siapa diri Bung, seseorang menyebut bahwa Bung menjelajahi Indonesia dengan dana seadanya. Sebegitu inginnya bertualang?
Tahun 2013 menjadi awal perjalanan panjang saya. Sebenarnya, tahun-tahun sebelum itu pun sudah senang jalan-jalan, tapi hanya sebatas kalau libur. Waktu itu memang sekadar hobi karena saya punya pekerjaan sebagai recording engineer. Saya dulu punya studio musik.
Pada suatu ketika, saya berada dalam fase patah hati. Saya yang dulu masih se-lebay itu terhadap patah hati memutuskan untuk menjual semua peralatan band dan menutup studio. Saya mencari teman perjalanan dan bertemu dengan dua orang, satu cowok dan satu cewek. Masing-masing dari kami memiliki alasan tersendiri untuk pergi jauh. Kami bertiga meninggalkan Bandung dan mulai bertualang.
Kami ke mana pun; gunung, pantai. Kami mengeksplorasi Indonesia yang bukan hanya alamnya, tetapi juga budayanya. Sampai suatu saat selama perjalanan, saya menyadari bahwa patah hati yang saya alami ternyata tidak seistimewa itu. Itu tidak sebanding dengan keresahan masyarakat di tempat-tempat yang saya kunjungi. Jadi, sebenarnya bukan betapa inginnya bertualang, tapi lebih pada betapa muaknya dengan kota sendiri pada saat itu. Tidak pernah berencana mau bertualang. Tiba-tiba saja memutuskan untuk pergi.
Pergi berapa lama?
Tujuh bulan. Dan selama itu enggak balik ke Bandung.
Apa perjalanan tujuh bulan itu yang membuat Bung begitu lekat dengan alam dan suka bertualang?
Saya malah jadi suka banget dengan petualangan. Sebelumnya saya juga sudah suka alam sih. Saya mendaki tiga gunung sebelum petualangan panjang itu: Gunung Semeru, Papandayan, dan Slamet. Dan pendakian itu mengubah hidup saya banget. Dulu, mendaki gunung belum se-happening sekarang. Gunung-gunung waktu saya mendaki tahun 2012 itu ramai, tapi tidak seramai sekarang. Saya bisa menemukan keintiman dalam keterasingan. Dari situlah saya mencintai alam.
Baru dilanjutkan dengan menyusuri Indonesia selama tujuh bulan itu. Saya lebih cinta lagi. Dan bukan hanya alamnya, tapi juga budaya orang-orangnya. Saya bertemu dengan orang-orang, dan kami tertawa bersama. Saat-saat seperti itulah yang sebenarnya membuat saya sangat jatuh cinta.
Bacaan Fiersa Besari
Dalam video YouTube "Kenapa Saya Menulis?", Bung menceritakan bagaimana awal mula menulis, dan itu berhubungan dengan perjalanan ke Pulau Buru. Saat itu, Bung bertemu seseorang yang memberikan Anak Semua Bangsa karya Parmoedya Ananta Toer. Sebuah kebetulan, ya?
Menurut saya, kejadian itu kayak disengaja banget. Dan soal menulis itu, kebanyakan dari kita senang menulis dari muda tanpa kita sadari. Mungkin saat kita sedang cheesy-cheesy-nya waktu SMA, menulis puisi. Patah hati, menulis puisi. Jatuh cinta, menulis juga. Apa pun bentuk tulisannya, bisa sajak atau yang lainnya. Orang yang bisa membaca itu pasti pernah menuliskan pemikirannya. Masalahnya, akan seserius apa dan bisa sekonsisten apa orang tersebut menulisnya. Dan kalau ditanya kapan saya mulai cinta menulis, sepertinya sama seperti kebanyakan orang. Sejak remaja, mungkin.
Keinginan untuk menjerumuskan diri lebih jauh di dunia literasi tercetus saat di Pulau Buru itu, setelah mengunjungi Masohi, sebuah desa pesisir di Pulau Seram. Sebenarnya bukan dari menulisnya, tetapi lebih ke membacanya. Betapa jarangnya saya membaca buku waktu itu. Setelah itu, saya menemukan dunia sendiri. Di perjalanan saat itu tidak ada sinyal, tidak banyak yang bisa saya lakukan selain mengobrol dengan orang lain. Untungnya, ada penduduk lokal yang memberikan saya Anak Semua Bangsa. Saya mulai membacanya. Membaca buku memang membunuh waktu, dan itu menyenangkan.
Saya rasa menulis itu bonus dari kita terlalu sering membaca. Mungkin, karena cuma orang-orang yang jarang membaca yang masih bertanya bagaimana cara menulis. Banyak sekali warganet yang bertanya perihal itu. Menurut saya, kalau kamu sering baca buku pasti sudah tidak perlu lagi ada pertanyaan itu. Esensinya bukan kecintaan terhadap menulis, tapi kecintaan terhadap membaca buku. Saya tidak bisa bilang saya gila baca yang bisa sehari habis satu buku. Cuma sejak suka baca, saya harus tetap membawa buku kalau pergi dari rumah.
Sekarang bawa apa?
Saya bawa Kekekalan karya Milan Kundera, tapi baru mulai baca banget, sih. Kalau buku asing, saya pesimis dengan terjemahannya. Dan terjemahan Penerbit Kakatua ini ternyata bagus juga. Beberapa waktu lalu, saya menyelesaikan 1984-nya George Orwell. Saya cukup pusing, mungkin karena terjemahannya kurang interpretasi atau memang gaya menulis Orwell yang klasik.
Bung memiliki akun Youtube dengan serinya berjudul Sebuah Jurnal yang kebanyakan berisi kisah perjalanan mendaki gunung. Apa yang ingin disampaikan melalui video-video itu?
Sebenarnya itu bentuk tantangan terhadap diri saya untuk menciptakan hikmah dari setiap perjalanan. Saya rasa, banyak sekali orang membuat jurnal perjalanan yang mungkin jauh lebih bagus dari saya. Dari segi sinematografi, angle, bahkan color grading-nya. Tapi membuat orang lain terikat dengan perjalanan kita dan tahu hikmahnya itulah yang menurut saya perlu.
Saya tidak menyalahkan betapa banyaknya anak muda yang membuat jurnal atau video perjalanan yang keren-keren. Tapi, bagaimana jika sebenarnya kita bisa menggali apa yang kita dapat waktu kita mengunjungi suatu tempat?
Kalau itu, Google saja bisa. Ibaratkan begini: Saya pergi ke Makassar, kamu juga pergi ke Makassar. Kita berada di tempat yang sama. Namun, sudah pasti pengalaman yang kita rasakan berbeda. Dan harusnya itulah yang diceritakan kepada orang lain. Esensi ketika kita pergi ke tempat itu bukan hanya informasi sebuah tempat ada apa saja. Itulah mungkin yang berusaha saya gagas. Ketika seseorang pergi ke suatu tempat, cobalah beri tahu orang lain apa saya yang kamu dapat. Sebenarnya, itu esensi jurnal tersebut, sekaligus menantang diri. Oh, ternyata bikin video perjalanan itu susah, ya.
Bung suka bertualang tapi tulisan yang dihasilkan lebih banyak tentang perasaan. Bagaimana keduanya berkorelasi?
Petualangan itu kayak penyulut. Saya mengakui, tulisan-tulisan saya yang seperti itu adalah penyulut agar yang membacanya tergelitik untuk membaca karya saya. Dan karya saya sebenarnya ada lebih dari Fiersa yang mereka tahu di dunia maya. Ada banyak yang tidak saya ceritakan. Seperti Catatan Juang yang bercerita tentang problematik Gunung Karst—para petani yang menggantungkan nasib pada gunung itu dan resapan air di bawahnya. Pembaca juga dihadapkan pada pembangunan pabrik semen, konservasi hutan, atau sejarah Kiri di Konspirasi Alam Semesta. Itu semua ada di buku saya, dan tidak semua orang bisa tahu jika hanya membaca melalui media sosial saya.
Bicara perasaan di media sosial itu semacam gerbang. Karena saya rasa ada beberapa orang yang harus mencolek anak muda tidak melulu dengan tulisan-tulisan yang sulit dipahami. Kritik ideologi, misalkan. Tidak semua anak muda bisa memahami itu. Tapi kita harus menggiring mereka yang tadinya apatis untuk tahu. Salah satu jalurnya adalah dengan berawal membicarakan perasaan, yang tahu-tahu ujungnya membahas hal yang lebih mendalam. Tulisan tentang perasaan itu jadi semacam click bait.
Bicara perasaan itu tidak pernah jadi hal yang salah. Banyak sekali pendaki pada zaman dulu yang naik gunung, dan tidak banyak hal yang bisa mereka lakukan. Boro-boro mencari sinyal, telepon saja masih telepon rumah. Pasti yang mereka lakukan adalah menulis. Puisi untuk dambaan hati di kampusnya, misalnya. Saat itu, mereka cuma bisa menikmati kesunyian. Dan dalam keadaan yang terbatas itu mereka dapat menghasilkan prosa atau yang lainnya. Saya rasa itu berhubungan sekali.
Bacaan Fiersa Besari
Banyak orang suka jalan-jalan dan bertualang, tapi sedikit yang mengabadikan dan menyebarkan pengalaman jalan-jalan mereka. Menurut Bung, bagi petualang yang masih kesulitan, apa langkah awal agar mereka dapat menuliskan pengalamannya itu?
Intinya niat. Kalau sejak awal seseorang tidak ingin membagikan kemewahan yang didapatnya saat bertualang, ya itu pilihan mereka. Namun, ada yang bertugas mendokumentasikan keindahan alam kepada orang lain karena semua orang tidak seberuntung itu bisa ke sana. Ya, yang pertama kali harus dilakukan itu niat. Lalu, untuk gawai, tidak harus yang mahal. Pakai yang standar saja. Saya ingat sewaktu di Gunung Patah saya cuma pakai gawai saya dan kamera pinjaman yang standar banget. Buktinya, saya bisa membuat jurnal dari peralatan itu selama dua minggu di dalam hutan.
Setelah itu, titik beratkan pada narasinya. Bikin kerangka. Jangan malas untuk selalu membuatnya sebelum tidur pada saat petualangan. Tadi pagi melakukan apa saja. Lalu, siangnya apa. Karena bila tidak dilakukan, besoknya pasti lupa. Dan kesalahan paling hebat manusia itu selalu merasa dirinya ingat, padahal sebenarnya mereka makhluk pelupa. Jadi, mulailah menulis sebisa mungkin pada saat itu juga.
Satu hal lagi yang paling penting. Banyak sekali orang yang menyesal karena tidak mendokumentasikan banyak-banyak. Jadi, jangan malas untuk melakukannya. Perbanyak mengambil foto dan video karena footage itu penting.
Sebagai musisi, mengakui tidak kalau popularitas Bung yang sekarang ini dibangun berkat tulisan-tulisan Bung dan bukan musik Bung?
Yang saya sadari adalah dulu orang-orang tidak begitu tahu soal musik saya. Semua berubah ketika pada 2010 saya mulai bermain Twitter. Ditambah saya ditinggal oleh tunangan saya dan terus memposkan cuitan galau. Lebay banget deh kalau diingat-ingat lagi. Tapi ternyata ada orang-orang yang selalu setuju dengan twit-twit saya itu melalui retweet-an mereka. Lama-kelamaan, followers saya bertambah dan tanpa disadari mengetwit jadi candu. Ketika kita didengarkan orang—disetujui orang.
Sejak itulah saya semakin ngebet untuk menulis pemikiran. Setelah itu, saya menyusupi mereka dengan karya saya yang lain. Bahwa saya punya lagu. lho. Dari situ, orang-orang jadi mengenalnya. Memang tidak bisa dipungkiri dari menulis ini orang-orang jadi tahu integrasi karya-karya saya.
Adakah penulis perjalanan yang Bung kagumi?
Agustinus Wibowo. Saya sudah baca semua karyanya dan mereka gila banget. Apalagi Titik Nol yang merangkum Selimut Debu dan Garis Batas. Saya sampai menangis baca Titik Nol. Gaya penyampaiannya itu dibuat seperti dia sedang menceritakan perjalanannya kepada ibunya. Saya langsung minder waktu baca itu—sekitar tahun 2013. Saya jadi tersadar tentang alasan kenapa naskah saya yang Arah Langkah tidak diterbitkan. Ya, karena memang jomplang banget. Dan sampai saat ini, saya tidak bisa bilang bahwa kualitas saya sudah sebaik beliau. Tidak. Jauh sekali. Hanya saja, setidaknya saya mengejar ke arah sana. Beliau ini hebat sekali.
Selain Titik Nol, ada karya favorit lain?
Sudah pasti tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer, terutama yang Anak Semua Bangsa karena itu ada kenangan tersendiri. Juga karena hati saya terbeli terutama dari kata-kata Nyai Ontosoroh, "Kenapa aku menyukaimu, Minke? Karena kamu menulis." Hati saya langsung klik. Pram memang jenius. Bisa menelurkan karya pada masa itu, dalam keterasingan dan tidak ada Google.
Selain itu, saya juga baca buku anyarnya Sabda, 24 Jam Bersama Gaspar, yang baru saya paham pada sepuluh halaman terakhir dengan pesan moral yang gila banget. Saya juga suka seri Supernova-nya Dee Lestari yang pop culture banget. Saya juga suka karya Muhidin M. Dahlan yang Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!, lalu Amba-nya Laksmi Pamuntjak dan Pulang milik Leila S. Chudori. Sebenarnya banyak lagi yang saya suka dan biasanya karena diksinya. Beberapa buku ada yang bagus banget tapi diksinya bukan tipe saya.
Ke depannya, apa rencana Bung?
Mungkin yang terdekat, ada proyek lagu di YouTube. Rencananya ingin menantang diri untuk bikin 12 lagu dalam setahun. Kalau dari buku nanti, ada album buku kedua berjudul 11:11. setelah album buku pertama, Konspirasi Alam Semesta, yang terbit pada 2016. Untuk tahun 2019, ada lah. Menggali politik Korea Utara, mungkin. Enggak, saya enggak ikutan, nanti di-bully. Saya memantau saja kalau soal itu.
sumber:
https://jurnalruang.com/read/1527025497-fiersa-besari-cinta-literasi-sejak-pulau-buru
Tidak ada komentar:
Posting Komentar