Selasa, 12 Maret 2019

Casual menjadi jenis dan gaya baru suporter Bandung

The Casual

Heiho lesgooo..
Casual adalah bla bla bla bla bla dan blaaaaaa ( U know lah). Tak perlu panjang lebar menjelaskan pengertiannya. Yang menarik buat saya adalah fenomena Casual didunia suporter, khususnya di Bandung.

Casual menjadi jenis dan gaya baru suporter Bandung. Tentunya mendukung Persib. Adidas adalah salah satu ciri khas outfit casual yang “kekinian” dan ‘keinggrisan”. Selain itu mereka melakukan chants yang tidak familiar ditelinga ibu-ibu freebumi, kadang sambil menghadap tembok stadion sambil merangkul pundak satu sama lain sembari ajrag-ajragan (mohon koreksi kedalam bahasa indonesia). Meskipun saya tidak pernah mengerti dan mendengar jelas chant si casual ini, tapi gemuruh ratusan anak-anak muda ini terdengar cukup menarik perhatian, yaaa dibanding saya yang bobotoh spesialis barat daya, yang sesekali saja ikut bernyanyi yo ayooo dan tak pernah melambai-lambai tangan. Selebihnya saya murni penikmat pertandingan.

Seingat saya, sejak masa-masa akhir era Siliwangi, bobotoh casual ini sudah eksis di tribun Utara. Entah siapa yang memulainya, tapi style dan aksi-aksi mereka memang dapat menarik banyak peminat, khususnya anak-anak muda untuk bergabung. Untuk hitungan endonesa, meski tergolong “bid’ah”, casual boys ini seolah tidak peduli dan terus menjamur mengakuisisi separuh tribun Utara Siliwangi sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya, pernah satu ketika (masih di Siliwangi), terjadi gesekan dengan bobotoh jenis lain. Mungkin dengan Viking, but I don’t know how exactly. Tapi keun bae da emang tribun’s life itu kerazzzz, bosque. Hitung-hitung tes mental. Neverback demi eksistensi, sah-sah saja. Asal jangan ada pembunuhan. Terkutuklah itu !!!

Beberapa taun kemudian.
Saya menjadi lebih jarang ke Stadion. Lebih memilih menjadi bonjopi, dikarenakan satu hal dan lainnya. Tapi atmosfir bobotoh tetap menarik perhatian saya. Kadang di linimasa media sosial atau cerita-cerita fiksi dan non-fiksi dari teman-teman seperjualan dulu (olac kelez). Tetiba perbincangan tentang casual kembali hangat. Si A si B si C adalah casual bla bla bla. Lalu dimana salah nya saya tanya?

Salah satu sumber yang pernah saya wawancarai mengkonfirmasi, beberapa yang membuat dia kesal adalah bahwa casual ini suka aneh-aneh dan susah untuk diajak kompak. Misalnya; bobotoh lain mengheningkan cipta, casual malah sway swey. Bobotoh lain nyanyi endonesa rayah, casual malah cing cang kel ling (hahahaha.. ngarang banget). Intinya atmosfir gemuruh stadion yang ditujukan baik untuk mendukung tim maupun meneror lawan jadi fals. Terbaru, soal bobotoh MURT∆D yang di-spandukan untuk dikonsumsi khalayak. Menurutnya, sangat tidak pantas. Meski stadion adalah arena bebas berekspresi, kata bobotoh murt^d dianggap terlalu sensitif karena mengandung penistaan akidah dan akhlak. Karena bagaimanapun membawa nama bobotoh yang meskipun unyang anying, tetap bobotoh itu tidak murt^d.
Oke kang., jadi kalau casual mau kompak sama yang lain, tidak akan ada keributan lagi ??
Kemudian hening.. Bisa saya mengerti, mungkin dalam pikirannya, apa mau casual ngechants “yoayoooo” ?
So, bisa dikatakan pula, sampe casual mau ngechants yoayoooo, gesekan ini tetap abadi. Hahahaha heureuy bro.. tapi kahade, mun teu patanya leuwih ti tilu poe, murt^d siah ceuk agama ge.. Ckckckckckckc..

Fenomena casual juga terjadi tidak hanya di bandung dan jabar saja. Daerah lain pun juga sama. Casual yang dianggap suporter modern dan eropah beungeud, kian berkembang biak dan terekam live-camera di stadion tim lain. Tidak ketinggalan suporter gaya ultras juga. Saya kurang bisa membedakan mana ultras mana casual. Entah dari OOTD atau garis keras dan garis lemah. Yang pasti karena tulisan ini hanya sebatas ceceletukan dan tidak mengandung ilmiah, jadi tak harus melakukan penelitian dan setajam siled. OK FINE?

Sumber:

https://ceceletukan.wordpress.com/2017/05/02/the-casual/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar